Sejumput Cerita Hidup
Tak hanya kolom pencarian atau informasi yang muncul di timeline media sosial yang memiliki algoritma, saya pernah mendengar bahwa hidupkita sebenarnya juga punya algoritma. Dan saya masih suka takjub dengan algoritma hidup yang sampai sekarang masih sulit untuk diprediksi.
Bermula dari Allah pertemukan saya dengan ibu paruh baya yang sangat ramah di Masjid Sulton Aulia, Jalan Harmonis. Lalu mengalir begitu saja, Ibu itu berhasil mengajak saya terlibat dalam obrolan yang ringan dan hangat. Setelahnya, saya seakan merasa sedang memasuki pintu gerbang petualangan yang sama sekali tidak pernah saya duga saya akan memasukinya. Setelah berjumpa dengan beliau, selanjutnya Allah mengizinkan saya bertemu dengan orang-orang baru. Allah menempatkan saya di situasi-situasi baru yang menuntun saya berkenalan dengan lebih beragam karakter di dalamnya. Saya jadi dikelilingi orang yang semakin hari semakin menjadikan saya membaik. Entah ini adalah perasaan saya pribadi atau memang demikian keadaannya saya membaik.
Masjid Ar-roudah di Km-8 Jalan Bypass Chevron telah menjadi tempat saya belajar selama saya di Kota Rumbai. Masjid itu telah menjadi tempat saya berpetualang dalam mengumpulkan hikmah dan pelajaran hidup (*maaf kalau sedikit berlebihan, hehe). Hingga ada masa dimana saya diqodar Allah untuk tinggal beberapa hari di rumah salah satu jamaah masjid tersebut rumah Ibu Widodo bersama keluarganya. Di rumah beliau, saya merasakan cinta yang begitu tulus. Melalui mereka saya bisa merasakan kehangatan yang saya rindukan dari keluarga yang ada di rumah. Dan saya sangat bersyukur atas itu. Sangat-sangat bersyukur.
Saya juga merasa bahwa Allah hadirkan beliau di hidup saya tak hanya untuk menemani saya selama tinggal di Rumbai, namun juga untuk menguatkan saya selama saya mendapati masa-masa sulit di sini. Ketulusan mereka meramut saya membuat hari-hari di sini terasa ringan untuk dijalani, membuat saya merasa selalu ada saja hal yang bisa disyukuri. Saya menyadari bahwa kehadiran mereka membantu saya memperluas ruang dalam hati untuk bisa bersyukur. Kehadiran mereka memperluas medan pandang saya dalam melihat dunia.
Perantara beliau semua, saya menemukan keyakinan hati, bahwa dunia yang kita tinggali saat ini hanyalah kesenangan yang menipu, kesenangan yang sedikit, dan ngga perlu kita jadikan tujuan utama dalam menjalankan kehidupan. Perlahan-lahan, keluarga Bu Widodo dan keluarga Tante Husnul mendidik saya menjadi saya yang berbeda. Lagi-lagi, saya ngga tahu ini sebuah bentuk klaim pribadi atau memang seperti itu adanya. Namun itulah yang saya rasakan. Perasaan orang lain tetaplah menjadi perasaannya dan yang nyata bagi saya adalah apa yang saya rasakan. Saya merasa saya membaik sejak dikelilingi manusia seperti mereka, aaaa sayang mereka.
Hal yang saat ini nyata saya rasakan, saya bersyukur atas masa-masa sulit itu. Masa-masa itu mengantarkan saya pada kondisi dimana saya bisa kembali merasakan manisnya keimanan. Budhe Atik, Tante Husnul, dan Budhe Yati' (Ibu Widodo) yang membantu saya menemukan kembali ketenangan yang dulu sempat hilang yang sempat jauh dari hati ini. Alhamdulillah, bisa merasakan lagi..
Pernah saya bilang ke Tante Husnul, saya bingung harus membalas dengan apa segala kebaikan yang sudah beliau berikan, lalu Tante Husnul bilang "kita saling mendoakan aja itu udah yang paling luar biasa" *Izza starts to crying. Aaa, manis banget hidup dalam agama ini. Dan yang buat saya ngga nyangka adalah saya sudah sampai pada waktu dimana saya sudah ngga bisa bersama-sama lagi dengan beliau. Tante Husnul dan keluarganya ngga tinggal di Rumbai untuk beberapa minggu kedepan.
"Kita bertemu karena Allah. Berpisah juga karena Allah" ujar beliau juga. Perpisahan yang tiba-tiba ((sebenenernya ngga tiba-tiba banget, cuma saya ngerasa belum bisa menerima)) ini membuat saya kesulitan meregulasi perasaan yang berkecamuk malam ini. Saya masih bingung mendefinisikan perasaan yang saya rasakan. Yah, mungkin itu alasan saya menuliskannya di blog saya malam ini. Saya sedang melakukan usaha untuk mengurai semua yang saya rasakan disini, hihi.
Hmmm mungkin sudah saatnya saya beristirahat, saya akan coba memejamkan mata malam ini. Terimakasih, Ya Allah.. atas algortima rencana hidup yang Kau atur begitu indah untuk saya.. atas orang-orang baik yang kau hadirkan dalam hidup saya.


Komentar
Posting Komentar