A randomness in the middle of night
Menjadi perempuan terjaga di zaman ini sulit ya? ah, ngga. Ngga sulit sih, tapi sulit banget!
Makin ke sini makin sadar bahwa menjadi perempuan yang terjaga mata dan hatinya tetap untuk Allah itu susah. Menjadi perempuan yang jasad dan jiwanya sepenuhnya berada di jalan Allah itu susah.
Makin ke sini makin sadar bahwa memutuskan untuk menjadi patuh tunduk aturan Allah Rosul bukanlah sebuah opsi. Iya, bukan sebuah pilihan. Tapi sebuah keharusan yang memang harus dipilih agar perempuan punya tameng dari bejatnya dunia. Huhu.
No, aku ngga memaksa semua perempuan atau semua pembaca / pengunjung blogku menyetujui pendapatku, tidak. Aku hanya sedang mengutarakan apa yang sedang hati rasakan. Aku hanya sedang menuangkan ramainya isi kepala atas kejadian malam ini. And frankly, I am not good enough too to say something good like this. I am not good enough too to think I can give some advices like those. I just want to pour out what my heart says. I am not worthy of speaking this topic. But hey, I am a woman and I feel what woman feels—the women's anxiety at this era, akhir zaman. Entah ini sebuah narasi yang sok paling mewakili, atau memang benar adanya. Makin kesini, rasanya semakin sedikit pihak yang bisa perempuan percaya. Atau... hanya diri ini saja yang sulit membuka diri untuk percaya?
hhaaah. Gatau.
Aku rasa, semakin kesini aku semakin sepakat apa yang biasa ditulis di buku-buku, teman terbaik adalah Allah, dan mungkin diri sendiri kita sendiri. Mungkin, sudah saatnya diri ini untuk kembali mengingat bahwa kepada aturan-aturan Allah harusnya diri ini kuat bersandar. Mengacu kepada ajaran-ajaran Rosul harusnya diri ini memadankan diri, memperbaiki, dan mengevaluasi diri. Hhaaah (deep breathing..)
Kebanyakan "Hhaah, Hhaaah," jadi keinget satu paragraf di buku "Secret of Divine Love" yang minggu ini sedang aku baca. Ada salah satu refleksi yang bisa menyadarkanku—juga membawaku kembali tenang dan memegang kendali saat pikiran dan hati tidak tenang.
When we connect with our breath, we are mysteriously connecting with the divine spirit that God blew into us. (To be honest, when I read this sentence, I feel goosebumps!). The following practice is simple but profound way of bringing God-consciousness to your breath (Latihan berikut adalah cara sederhana namun mendalam untuk membawa kesadaran Tuhan ke dalam napas Anda) :
Notice your breath. Allow yourself to breathe naturally.
Witness how you are not breathing, but rather you are being breathed.
Observe your breath, as if you're watching the coming and going of waves upon the ocean shore. Inhale... hold... exhale... hold... Inhale... hold... exhale...
Do not manage how long or deep your breaths are.
As you naturally breathe in through your nose, lot your tongue rise to the roof of your mouth, allowing your breath to say, "Al". As you exhale through your mouth let your tongue drop down allowing your outward breath to say, "lah". For the next 3-5 minutes, sit in silent reflection, saying Al-lah (Allah) with your breath.
Notice how you feel before and after this practice. :)
Hhaah..
1.49 am (dawn) -- 8/15/2022 -- Monday

Komentar
Posting Komentar