Perkara Karcis

Orang bilang, untuk masuk kesana, kita harus punya karcis. Celakanya, malam ini kita tidak punya duit buat beli satu karcis lagi. Tidak mungkin aku pergi, sedang kamu tidak. Kita tunggu sebentar, yah. Temanku bilang mau kesini barang lima menit dari toko roti di depan toko baju ujung jalan ini. Dia bilang mau antarkan hutang seminggu lalu. Duitnya buat beli karcis, iya untukmu.


Kita tunggu, sebentar lagi. Tiga menit lagi.


Mungkin, dua menit lagi.


Dan, yaaaah... Katanya, dia harus kembali. Entah, aku juga bingung kenapa dia tiba-tiba membatalkan janjinya begitu saja. 


"Kenapa tidak transfer saja sih?" Gerutumu,


Lupa ya, dia tak pandai masalah begituan. Gawainya tak secanggih punya kita. "Dan kenapa harus memijamkan pada orang seperti itu?" Cecarmu lagi.


Ah, astaga. Apakah kita harus pilih pilih dalam membantu? Siapa kita berhak menentukan mana yang berhak dan tidak, sedang diri kita sama dengan mereka. Sama-sama penuh celah. Ah, celaka! Gerimis. Menunggu membuat kita merasakan waktu begitu lambat. Dan semua kejadian disekitar begitu sensitif untuk dirasakan.


Gerimis. Banyak hal yang datang untuk segera ditepis. Kenangan manis, contohnya. Haha. Gerimis. Ada yang meringis. Ditengah-tengah percakapan ngawur yang semakin malam semakin membuat perut menangis, ada yang datang bawa sekotak martabak manis.


Aah. Rasanya mau nangis!


Orang yang kamu cela barusan, dia tak hanya kembalikan duitku. Dia bawakan martabak manis!


Rasanya, dia berbohong saat dia bilang harus kembali. Dia ingin kita merasakan bahagia yang berlipat. Dia paham betul bahwa rasa senang yang dirasakan setelah hati terlanjur kecewa, akan terasa berlipat-lipat. Ah, berlebihan!


Tapi benar adanya.




.


"Jadi, kau mau kita untuk kembali kecewa?" Haha, lagi-lagi kau menanyakan pertanyaan yang sulit. Ah!




Komentar

Postingan Populer