Entah
Tiga hari ke belakang, aku banyak diam.
Aku-tidak seperti aku biasanya. Dan aku sadar penyebab di baliknya. Aku merasa aku sedang di puncak kasmaran, yang jelas akan sangat susah menjelaskan dengan detail apa yang sebenarnya sedang aku rasakan.
Yang awalnya, kasmarannya menjadi energi untuk aku berlari, mengejar mimpi yang sempat tersimpan rapih, tiga hari ini kasmarannya membuatku berdiam diri. Seakan ada kobaran api dalam hati yang dikebiri.
Entah, mungkin ini bentuk kekecewaan, atau justru ini adalah sebuah titik dimana aku dapat mengendalikan diri? Tak lagi dibutakan nafsu, hasrat memiliki, dan ilusi welas asih. Entah, yang pasti apa yang kurasa ini semua terasa asli. Nyata, namun penuh ironi.
"Ironi bagaimana?"
Ironi, karena aku tak sedikit pun berniat memiliki, atau dimiliki. Namun perasaan ini terus menggerogoti, bersemayam dalam hati. Terus saja mengekori sepanjang hari, malam hingga pagi. Berlebihan memang, tapi, ya, bagaimana lagi,
memang begini :)
Sakit !
Namun, bagaimanapun juga, terimakasih, telah menjadi alasan merasa,
Menjadi pemantik tawa dan membuat runyam kepala
Selamat, kamu berhasil membuat dunia ini terasa berbeda.
23.00
7 Des 2020

Komentar
Posting Komentar